Aside
0

Tugas

Ilmu Kewarganegaraan

 

 

“Perwujudan Sikap Nasionalisme Warga Kota Surabaya”

 

 

Disusun Oleh :

Nama             : Dian Etika

Nim               : 124 254 213

Kelas             : A

                  

 

 

 

S1 PPKN

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Tuhan telah menciptakan manusia dan Tuhan pulalah yang telah memberikan anugerah kepada manusia sebuah perasaan. Perasaan tersebut dapat dilihat dengan adanya sifat saling  mencintai dan mengasihi. Rasa cinta yang ada di dalam diri manusia dapat diwujudkan dengan cinta kepada orang tua, cinta kepada saudara, cinta kepada teman, cinta kepada sesama manusiaa dan yang berperan penting untuk negara ini adalh jika semua warga memiliki rasa cinta tanah air. Suatu negara jika tidak terdapat sikap nasionalisme dari para warga/rakyat negara tersebut akan sulit berkembang. Hal ini karena cinta tanah air yang lahir dan diwujudkan oleh setiap negara mampu mendongkrak dan mendorong negara menjadi lebih baik.

Cinta terhadap tanah air dari warga negara Indonesia dapat disebut dengan istilah nasionalisme. Nasioanalisme dapat tumbuh dan mengalir didalam diri manusia jika manusia tersebut sejak kecil sudah diberikan masukan-masukan yang baik mengenai suatu kenegaraan. Sedari kecil sebaiknya mereka diajari serta diberi masukan contoh-contoh cinta terhadap tanah air. Misalnya seorang anak yang masih belajar di taman kanak-kanak mereka seharusnya wajib mengenal lagu-lagu nasional. Namun kenyataan negara kita tidak demikian, mereka yang masih kecil malah fasih menyanyikan lagu-lagu yang seharusnya belum mereka kenal seperti musik pop karangan band-band jaman sekarang. Sungguh ironis jika kita melihat hal demikian.

Dalam sistem kehidupan tentu saja ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang jahat juga ada yang baik, dll semuanya memiliki fungsi dan contoh yang bebeda. Jadi  selain contoh yang diatas juga masih terdapat sisi yang bisa dibilang masih menyimpan rasa nasionalisme. Hal ini ada yang belum diwujudkan oleh warga/rakyat ada juga yang sudah secara terang-terangan rakyat mempraktekkan hal itu. Perwujudan nasionalisme oleh setiap warga dapat kita lihat contohnya seperti rasa hormat kita kepada bendera sang saka merah putih pada saat upacara, perlombaan di setiap  tanggal 17 agustus, pergerakkan sistem gerak jalan diwilayah surabaya mojokerto. Mungkin dengan adanya prosesi atau acara-acara tersebut warga masyarakat dapat menyampaikan rasa cintanya kepada tanah air Indonesia.

Perwujudan sikap nasionalisme setiap warga tersebuat akan menuai kebaikan tersediri bagi negara. Dengan adanya perwujudan sikap nasionalisme seperti itu maka akan terciptanya sebuah kebersamaan yang bisa menjalin tali persaudaraan antar umat manusia yang menghuni negara tersebut.Yang kemudian akan mewujudkan sikap persatuan Indonesia. Sikap naisonalisme kita juga merupakan sikap yang luhur hal ini karena dengan nasionalisme kita termasuk sudah berperan penting dalam menghargai jasa para pahlawan yang telah membela tanah air Indonesia. Tanah air Indonesia raya tidak akan pernah merdeka seperti ini tanpa adanya para pahlawan yang sudah bertumpah darah mempertahankannya. Mereka rela mati demi untuk tanah air mereka sendiri. Mereka korbankan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia raya merdeka. Oleh sebab itu tidak sepatutnya kita melupakan jasa-jasa para pahlawan kita. Sebagai generasi penerus bangsa harus menanamkan sikap nasionalisme yang tinggi dan perlu untuk di wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan-perwujudan tersebut dapat kita liat sendiri dengan adanya pola dan tingkah laku serta kebiasaan masyarakat dalam mempersembahkan rasa cinta tanah air mereka.

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Apakah sikap nasionalisme masyarakat Surabaya sudah maksimal?
    2. Mengapa sikap nasionalisme rakyat Surabaya harus ada di dalam jati diri seluruh warga negara?
    3. Apa saja akibat yang ditimbulkan dengan adanya sikap nasionalisme para warga?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Mengacu pada awal tumbuhnya nasionalisme secara umum, maka nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan di mana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa. Munculnya nasionalisem terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari cengkeraman kolonial. Semangat nasionalisme dihadapkan secara efektif sebagai metode perlawanan dan alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan. Seperti disimpulan oleh Larry Diamond dan Marc F.Plattner, para penganut nasionalisme dunia ketiga secara khas menggunakan retorika anti kolonialisme dan anti imperialisme.

Dalam perkembangan selanjutnya, para pengikut nasionalisme ini berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka miliki dapat diwujudkan dalam sebuah identitas politik atau kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation). Dengan demikian bangsa atau nation merupakan suatu badan atau wadah yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka miliki seperti ras, etnis, agama, bahasa dan budaya. Unsur persamaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama atau untuk menetukan tujuan bersama. Tujuan bersama ini direalisasikan dalam bentuk sebuah entitas organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolitik yang terdiri atas populasi, geografis, dan pemerintah yang permanen yang disebut negara atau state.

Pada awal sebelum pergerakan nasional, bangsa Indonesia masuk ke dalam masa penjajahan sejak awal abad ke 17. Kedatangan orang Eropa yang diawali oleh bangsa portugis dan bangsa Spanyol dalam rangka mengadakan penjajahan keliling dunia, maka sampailah bangsa-bangsa tersebut di Asia. Dengan ditemukan kompas, mesin uap, dan berdasarkan teori Copernicus bahwa bumi ini bulat, maka dimulailah penjelajahan dunia. Dari kedua bangsa itu, pertama muncul adanya imperialisme kuno. Mereka bersemboyan gold (emas lambang kekayaan), ospel (agama sebagai usaha untuk penyebaran agama dan meneruskan perang salib), dan glory (kekayaan yang berarti ingin menguasai daerah-daerah yang didatanginya). Hal tersebut terjadi sejak abad ke 15 dan ke 16.

Perjuangan proklamasi kemerdekaan Indonesia menempuh dua cara yaitu dengan perjuangan diplomasi dan perjuangan bersenjata. Dalam perjuangan bersenjata, sebenarnya sudah dimulai sejak sebulan tercetusnya proklamasi kemerdekaan Indonesia, yaitu ditandai oleh dua peristiwa bersejarah yang terjadi di Jakarta dan di Surabaya. Untuk di Jakarta dan di Suarabya tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan, yakni pada tanggal 19 September 1945. Di Jakarta pada tanggal tersebut sedang berlangsung rapat raksasa ikada, yang merupakan show of force (pameran kekuatan) rakyat Indonesia, yang intinya diwakili rakyat yang ada di sekitar Jakarta. Dalam rapat tersebut pihak Jepang mengadakan penjagaan ketat kepada orang-orang yang menghadiri di lapangan ikada (sekarang lapangan Monas). Ada ancaman dari pihak Jepang, sehingga Bung Karno dan Bung Htta dipersulit untuk datang ke apangan ikada itu. Akhirnya dengan berbagai usaha Bug Karno dan Bung Hatta menghadiri rapat tersebut, walaupun hanya mengucapkan pidato secara singkat, yang bersifat membubarkan massa rakyat yang hadir. Rapat hanya memakan waktu kurang lebih lima menit, namun kepercayaan rakyat terhadap kepemimpinan Bung Karno-Hatta tetap tinggi. Rapat itu digarakan oleh kelompok-kelompok pemuda yang bermarkas di Gedung Menteng 31, Prapatan 10, dan Cikini 71.

Bersamaan dengan Rapat Raksasa Ikada itu, di Suarabaya juga terjadi Insiden Bendera, yaitu Bendera Belanda Merah Putih Biru, birunya dironek dan tinggal Merah Putih dikibarkan kembali diatas Hotel Yamato atau Hotel Orange pada masa penjajahan Belanda. Insiden Bendera ini menimbulkan bentrokan fisik yang sangat hebat di Suarabaya dan menunjukan tanggung jawab bangsa Indonesia, khususnya arek-arek Surabaya untuk mempertahankan negara merdeka yang baru satu bulan di proklamasikan itu. Peristiwa ini ternyata ada kaitannya dengan peristiwa di Jakarta yang terjadi dilapangan Ikada. Hal tersebut diketahui dari pemuda-pemuda Menteng 31, yang bergerak dibawah tanah dengan membawa selebaran gelap ke kota Suarabaya. Hal ini membuktikan bahwa kejadian itu berarti sudah ada bentuk kesatuan dan persatuan yang dibina oleh para pemuda, tidak hanya dalam satu wilayah, melainkan sudah jauh ke berbagai daerah-daerah di seluruh Indonesia. Sebab peristiwa-peristiwa didaerah-daerah luar Pulau Jawa, juga tidak kalah hebatnya, antara lain Sumatera yang terkenal Medan Area, di Kalimantan Peristiwa Mandor. Dll

Perjuangan fisik pertama sejak Indonesia merdeka, telah dimulai di Surabaya dengan terjadinya Insiden Bendera, pada tanggal 19 September 1945. Sedangkan pada waktu yang bersamaan di Jakarta juga terjadi rapat Ikada Raksasa, yang dapat diartikan sebagai pameran kekuatan (show of force) rakyat Indonesia. Kalau di Jakarta tidak terjadi perang fisik, bahkan sampai puncaknya terjadi ultimatum dari Inggris disebabkan perlawanan rakyat Surabaya sampai terbunuhnya Brigadir Jendral Mallaby. Batas waktu ultimatum tersebut yakni tanggal 10 november pukul 06.00 yang isinya antara lain sebagai berikut “semua pimpinan dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya ditempat-tempat yang ditentukan, selanjutnya menyerahkan diri dengan mengangkat tangan keatas. Apanila sampai batas waktu yang telah ditentuka tersebut tidak di indahkan, maka Surabaya akan di bumi hanguskan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Dengan adanya perjuangan bersenjata yang terjadi di Kota Surabaya yang terjadi pada tanggal 19 September yang mengakibat bangsa Belanda mengeluarkan ultimatum bahwa Kota Surabaya akan dibumi hanguskan tersebut, tentu saja semua rakyat Surabaya gentar, bahkan dijawab dengan perlawanan yang lebih hebat lagi. Walaupun banyak rakyat yang terbunuh        namun tidak mengendorkan semangat perjuangan arek-arek Surabaya. Dalam pertempuran ini, patut dicatat atas kepemimpinan Bung Tomo yang dengan tegas komandonya menggunakan semangat Islam, yaitu Allahu Akbar! Allahu akbar! Allahu akbar!

Peristiwa sederhana ini sekaligus mengatakan tiga hal yang fundamental yaitu adanya sebuah bangsa yang bernama Indonesia, adanya sebuah negeri yang bernama Indonesia, dan bangsa ini menuntut kemerdekaan bagi negerinya. Begitulah kalau sejarah pergerakan kebangsaan dikaji lebih teliti, maka kelihatannya bahwa mahasiswa yang bergabung dalam PI di Belanda itulah yang seharusnya bisa dianggap pelopor pergerakan nasionalisme antikolonial yang radikal. Muda, terpelajar dan kosmopotan para mahasiswa itu dengan jelas kemana pergerakan kemerdekaan yang semestinya harus diarahkan.

Kisah sederhana seperti di tanggal 10 November yang terjadi di Surabaya memperlihatkan salah satu hal yang menarik dalam pengetahuan kita tentang masa lalu, sebuah rentangan perjalanan waktu yang secara teoritis bisa dianggap sebagai lautan kejadian dan peritiswa yang tanpa tepi. Sungguh banyak, bahkan teramat banyak dan takkan terhitung, kejadian dan peristiwa yang dibiarkan lewat dan kemudian tenggelam begitu saja dalam lembah kelupaan, tetapi ada peristiwa yang tercatat dan teringat dan diperlakukan sebagai bagian dari proses dinamika bangsa atau komunitas lain yang menjadi perhatian pokok dan bahkan ada pula yang dianggap sebagai awal atau akhir yang dari proses itu. Kedua hal yang belakangan inilah yang seharusnya lulus dalam kategori “sejarah” teringat dan tercatat serta dianggap penting.

Sekali-kali peristiwa yang telah masuk kedalam sejarah ini bisa mengharuskan masyarakat untuk menengok kembali ke lautan peristiwa lalu yang telah terlewatkan dan terlupakan itu. Siapa tahu ada kejadian yang terabaikan dan terlupakan yang perlu dibawa masuk kedalam sejarah. Jika hal ini terjadi maka corak dan sifat atau dinamika sesungguhnya dari peristiwa yang teringat dan tercatat itupun menjadi lebih jelas. Tidak banyak memang, tetapi dalam peristiwa waktu ada juga peristiwa yang masuk kedalam peristiwa itu mengalami proses mitologisasi. Dalam kesadaran peristiwa itupun menjadi lebih besar dari keadaan yang sesungguhnya. Bisa saja peritiwa itu diperlakukan sebagai simbol dari nilai yang penting dan fundamental dalam kehidupan komunitas yang memilihnya.

Bahkan tidak pula jarang peritiwa tersebut digambarkan sebagai saat ketika identitas kolektif terwujud dalam tingkah laku. Dalam suasana alam pikiran yang ingin integritas bangsa. Umpamanya, mestikah diherankan kalau satu dua peristiwa dimasa lalu yang membayangkan peristiwa itu bisa mengalami mitologisasi? Karena itulah mungkin bisa dipahami juga kalau peritiwa seperti “hari pahlawan” yang meskipun hanya diikuti oleh hanya sekian puluh orang, tetapi mewakili berbagai kalangan masyarakat. Dalam struktur kesadaran bangsa peristiwa itu lebih besar dari kenyataan sesungguhnya.

 Betapa menyedihkan peristiwa yang terjadi saat itu. Sangat memilukan jika mengenang masa-masa tersebut. Kejadian tersebut tidak sepatutnya hanya menjadi sebuah kenangan yang hanya untuk dikenang. Peristiwa yang seperti itu seharusnya menjadi gambaran kepada kita akan pentingnya sikap nasionalisme untuk bangsa dan negara kita. Sikap nasionalisme yang kita tunjukan adalah untuk menghormati perjuangan para pahlawan kita yang berperang membela tanah air Indonesia dari jajahan bangsa barat kita. Dengan adanya sikap nasionalisme yang tertanam didalam diri kita tentu akan membantu perkembangan bangsa kita terhadap ancaman pengaruh penjajahan yang akan mendatang.

Melihat lagi dari peristiwa yang terjadi di tanggal 10 November 1945 saat itu. Yang mana Indonesia bagian timur sedang diobrak-abrik oleh bangsa Belanda dengan mengeluarkan ultimatum untuk para warga Surabaya supaya meletakkan senjatanya lalu menyerahkan diri dengan tangan kosong. Hal seperti ini sungguh sangat keji jika dipandang oleh kasap mata kita. Ditambah lagi dengan terbunuhnya Jendral Mallaby yang tentu sangat mengharubirukan keadaan. Kejadian tersebut sangat merisaukan seluruh warga kota Surabaya, mereka kebingungan mencari-cari tempat untuk menyelamatkan diri dari ancaman penjajah tersebut. Harta benda mereka dirampas, seluruh kekayaan mereka diambil dan anak-anak mereka dibunuh. Sungguh ibarat suatu penyiksaan yang tak pernah bisa di ampuni. Dengan kondisi seperti ini yang akhirnya semua warga memutuskan untuk mencari tempat yang lebih aman. Konon katanya tempat yang menjadi sasaran penyelamatan diri mereka yaitu di daerah Mojokerto. Mereka berjalan dan berlari sampai ke kota tersebut demi untuk keamanan. Namun tak sedikit dari mereka yang mati terbunuh oleh penjajah.

Peristiwa melarikan diri yang dilakukan oleh para warga kota Surabaya ke Mojokerto ini dikenang oleh masyarakat sekarang dengan cara mlakukan sistm gerak jalan Surabaya Mojokerto. Masyarakat sekarang melakukan kegiatan tersebut sebagai lambang rasa nasionalisme mereka. Kegiatan gerak jalan ini biasanya dilakukan setiap sebulan sekali yang didalamnya adalah sekelompok anak muda yang memiliki fisik kuat supaya bisa berjalan sampai beberapa kilometer. Dalam gerak jalan tersebut juga terdapat yel-yel semangat nasionalisme yang dinyanyikan di tengah-tengah saat mereka berjalan tersebut. Mereka biasanya berseragam satu sama lain terlihat kompak.

Aktifitas gerak jalan yang akhirnya menjadi budaya warga menjadi suatu perwujudan rasa nasionalisme warga yang di tunjukan dengan rela berbondong-bondong merasakan perihya kaki yang berjalan begitu jauhnya. Para warga melakukan sistem seperti ini yaitu dengan tujuan untuk mengenang masa lalu yang perwujudan sikap yang seperti itu bisa dibilang sikap nasionalisme yang tinggi. Walaupun kenyataannya sikap seperti ini bisa dibilang bukan suatu yang luar biasa. Masih ada banyak sikap yang lebih memerankan rasa cinta tanah air yang perlu di wujudkan.

Menyadari akan halnya jiwa nasioanlisme menuntun kita akan pentingnya sejarah. Menyadari tempatnya sebagai anak zamannya sejarawanpun tidak pula mengharuskan dirinya untuk berdialog dengan para sejarawan dan pemikir sejarawan sebelumnya dan sezamannya. Ia harus sadar juga bahwa meskipun perhatiannya sebagai sejarawan profesional hanya terfokus pada dinamika lokal dalam rentangan waktu yang terbatas sekalipun namun tanpa pengetahuan akan renungan kesejarahan maka karya yang dihasilkan pun akan terbelenggu dalam rentetan peristiwa kelokalan saja tanpa makna. Karena itulah  pula meskipun ia telah memastikan dirinya bahwa ia hanya ingin berusaha melakukan rekonstruksi tentang sejarah yang terjadi dimasa laalu saja, namun sekali-kali merasa perlu menjenguk pemikiran sejarah yang bersifat spekulatif, yang seakan-akan meramal masa depan. Bahkan untuk mengikuti gaya berfikir pemikiran spekulatif itu barang kali, tetapi ia bisa menjadikannya sebagai bagian dari latihan intelektual untuk membaca yang tidak begitu saja bisa terbaca, yang kemungkinan arah dinamika sosial.

Hal seperti itulah yang jawaban dari mengapa masyarakat Surabaya perlu adanya jiwa nasionalisme yang sejak dini harus sudah ada. Apakah tidak begitu tega jika semua masyarakat kota Surabaya mengabaikan peristiwa-peristiwa seperti contoh diatas yaitu peristiwa 10 November, atau malah bahkan mereka pura-pura tidak tahu. Sungguh sangat tidak etis jika semua fikiran manusia seperti itu. Apa yang akan terjadi kepada negara ini jika semua warganya tidak memiliki jiwa nasionalisme? Akankah akan menjadi sebuah negeri yang antak berantah seperti yang diucapkan oleh Justi Beiber kala itu. Kala dimana dia menyebut Indonesia sebagai negeri yang antak berantah sungguh sangat keji perkataan seperti itu. Namun itu harus dijadikan sebagai kritikan untuk kita supaya bisa lebih mencintai negeri ini dengan segenap jiwa dan raga kita. Cinta kepada negeri ini bisa diwujudkan dengan berbagai suatu perilaku, tidak hanya dalam hari-hari atau tanggal dimana terjadi suatu peristiwa, tetapi bisa dilakukan setiap hari dalam kehidupan kita dengan bersikap baik keapada sesama.

Suatu saat cita-cita bangsa Indonesia yang merupakan suatu filsafat dari berbagai pandangan politikus akan bisa terarah dan tercapai. Banyak sekali pihak yang sangat diuntungkan para pahlawan yang sudah mendahului kita bisa tersenyum melihat kita. Bagi kita sendiri dampak yang kita terima akan merasa aman menjalani kehidupan sehari-hari, terutama bagi warga kota Surabaya. Kita akan merasa bangga tehadap negeri kita yang tecinta ini. Indonesia juga akan semakin harum dimata negeri lain. Indonesia tidak akan lagi diinjak-injak harga dirinya hanya karena masyarakatnya yang kurang punya rasa solidaritas. Indonesia akan menjadi bangsa yang satu seperti yang tercantum dalam tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Dengan sikap nasionalisme yang ditunjukan oleh rakyat untuk negara bisa menyadarkan pemerintah agar dalam melaksanakan tugasnya tidak sewenang-wenang seenaknya sendiri. Tidak lagi terjadi korupsi, tidak lagi adanya nepotisme yang di lakukan oleh para pemerintah. Harapan seperti ini yang diimpi-impikan oleh para rakyat dalam mewujudkan sikap nasionalime. Namun semua itu butuh proses yang panjang. Kesadaran nasionalisme yang seharusnya tidak hanya untuk warga kota Surabaya saja, tetapi harus menjurus ke seluruh kalangan pelosok negeri Indonesia dari sabang sampai merauke. Tidak hanya untuk kalangan bawah, tetapi juga untuk kalangan atas seperti pemerintah-pemerintah dan seluruh elemen pendiri dan penegak bangsa Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

            Demikian makalah ini penulis buat, penulis sampaikan terima kasih. Berdasarkan uraian yang telah penulis jelaskan diatas maka dapat di ambil kesimpulan dan saran yang penulis susun dibawah ini.

 

  1. Simpulan

Penghormatan kepada pahlawan kita dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan sikap nasionalisme, sikap nasionalisme itupun dapat diwujudkan dengan berbagai cara. Ada beberapa kalangan penduduk yang selalu mewujudkan sikap nasionalisme mereka ditanggal-tanggal tertentu. Misalnya saja masyarakat kota Surabaya yang meriahkan tanggal 10 November atau yang biasa disebut dengan hari pahlawan. Perlunya masyarakat kota Surabaya dalam mewujudkan sikap nasionalisme mereka karena kota Surabaya merupakan salah satu kota bersejarah dalam perkembangan bangsa Indonesia, yang mana pada zaman itu masyarakat kota Surabaya sangat menghormati makna bendera merah putih ketika Belanda mau merobek bendera itu. Masyarakat pada saat itu tidak rela jika harkat dan martabat Indonesia diinjak-injak oleh bangsa lain. Jadi sewajarnya kita sebagai penerus generasi bangsa perlu mempunyai rasa nasionalisme yang harus ditanamkan sejak dini.

 

  1. Saran

Saran dari penulis mengenai judul dan tema yang penulis ambil untuk makalah ini yaitu sebaiknya sikap dan rasa nasionalisme ada dan tumbuh serta diwujudkan oleh seluruh kalangan masyarakat Indonesia, khususnya warga kota Surabaya, hal ini dikarenakan karena dengan adanya sikap nasionalisme secara tidak langsung kita sudah menjaga dan melindungi bangsa Indonesia dari berbagai ancaman dari bangsa lain yang akan menghancurkan bangsa kita, dengan sikap nasionalisme kita juga sudah menghormati pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah gugur mendahului kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sudiyo. Pergerakan nasional mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2004

Kartodirdjo, Sartono. Sejak indische sampai Indonesia. Penerbit buku kompas. Jakarta: 2005

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s