Aside
0

Nama                   : Dian Etika

NIM                       :  124 254 213

No absen             : 49

 

Pelaksanaan religi di era globalisasi

 

Pada era globalisasi banyak terjadi perubahan dalam berbagai segi kehidupan manusia, baik segi sosial, budaya, teknologi maupun dalam segi keagamaan atau religi. Era globalisasi  dalam segi religius dapat ditandai dari berbagai sisi. Misalnya semakin bebasnya orang memilih atau memeluk agama sesuai hati nuraninya dan keyakinan yang dimiliki, Kebebasan be rekspresi akibat kemajuan teknologi, semakin banyaknya sarana dan prasarana peribadatan, serta pengakuan yang diperoleh para pemeluk agama dari pemerintah.

Didunia terdapat banyak jenis religi baik yang berupa kepercayaan maupun agama. Pada zaman sebelum era globalisasi, tidak semua penduduk diperbolehkan untuk menganut agama yang mereka yakini secara terang-terangan. Contohnya di Rusia. Negara ini adalah salah satu negara komunis terkenal di Dunia yang dahulu merupakan kekuasaan Uni soviet. Sebagai Negara komunis, kebebasan beragama di Negara ini dilarang. Penduduk terbiasa dengan sistem sentralis dimana mereka diharuskan untuk mematuhi perintah Kaisar. Bagi mereka, Kaisar adalah Tuhan sehingga segala perintahnya harus dipatuhi. Doktrin bahwa kekuasaan kaisar mutlak dan setara dengan Tuhan tidak boleh dibantah lagi. Bagi penduduk yang ketahuan memeluk suatu agama, maka pemerintah tidak segan-segan untuk menghukum mati orang tersebut beserta keluarganya. Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang disiksa terlebih dahulu dihadapan umum sebelum dibunuh sebagai contoh bagi rakyat.

Kondisi keagamaan di Rusia pada era globalisasi saat ini sudah sangat berbeda. Walaupun masih ada yang menjadi seorang ateis, akan tetapi kebebasan beragama di Negara ini sudah tidak dilarang lagi. Berbagai rumah peribadatan juga didirikan sebagai tanda dukungan pemerintah terhadap hal tersebut.

Di Indonesia sendiri kebebasan beragama diakui semakin baik. Salah satu contohnya adalah penganut konghuchu dari entis Tionghoa. Pada era sebelum reformasi, konghuchu tidak diakui sebagai agama resmi. Bahkan pada masa reformasi, agama ini yang mayoritas penganutnya adalah etnis China mengalami pembantaian besar-besaran. Banyak penduduk yang dibunuh, harta benda mereka dijarah, Rumah mereka dirusak atau dibakar dan lain sebagainya. Kini agama tersebut sudah diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Penganutnya bebas mengekspresikan kepercayaannya. Rumah beribadatan bagi mereka pun sudah tersebar hampir diseluruh wilayah Repuiblik Indonesia.

Tanda lain dari adanya globalisasi dalam segi religi adalah kebebasan mengekspresikan jenis agama yang mereka anut dengan menggunakan busana atau benda lainnya. Contohnya saja orang yang beragama islam, banyak diantara mereka yang kaum muslimah sekarang semakin modern dalam hal berhias. Banyak berbagai model-model jilbab yang semakin beraneka ragam. Padahal pada era orde lama, kebebasan berjilbab bagi muslimah sangat dikekang, teruatama bagi pegawai Negeri. Sangat jarang didapati seorang wanita berjilbab kecuali mungkin ditempat-tempat tertentu seperti pondok Pesantren. Bagi pemeluk agama kristen misalnya, mereka kini secara terang-terangan menggunakan salib untuk menunjukkan identitas mereka sebagai penganut agama kristen, baik yang katolik maupun protestan. Adapun yang dimaksud dengan Gereja di Indonesia di sini adalah Gereja-gereja Protestan di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak itu. Dengan demikian pembicaraan di sini dibatasi pada Gereja-gereja Protestan dan tidak termasuk gereja Katolik Roma walaupun dalam konteks tertentu Gereja ini akan disinggung pula. Gereja-gereja di Indonesia pada hakikatnya hidup dalam keberagaman. Keberagaman tersebut dapat dilihat dari pelbagai sudut, misalnya dari sudut latar belakang etnis, corak Kekristenan, pengakuan iman, pekabaran Injil, dan pengorganisasian diri. Untuk jelasnya ada baiknya bilamana misal masing-masing dapat digambarkan sekedarnya, yang sekaligus dapat dianggap sebagai wujud dasar dari Gereja-gereja di Indonesia

Kebebasan berekpresi juga dipengaruhi oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, salah satunya internet. Internet juga berperan aktif dalam dunia religi yang mengglobal saat ini. Berbagai layanan gratis syiar-syiar atau lagu-lagu sholawatan atau yang berhubungan dengan rohani juga sangat mudah untuk di download. Dengan begitu bagi mereka yang ingin memperdalam ilmu keagamaannya lebih kuat imannya. Berbagai Web bernuansa religi menghiasi dunia Maya. Para pemeluk agama dari berbagai belahan dunia bisa saling berkomunikasi melalui internet dengan berbagai fasilitas, misalnya facebook, chating, Twitter, dan lain sebagainya. Kemudahan dalam mengakses jaringan komunikasi juga didapat akibat kemajuan teknologi. Dalam acara Misa Natal misalnya. Bagi penduduk yang ada di Indonesia, dapat menyaksikan peristiwa Misa di Gereja Vatikan, Eropa melalui layar kaca. Demikian pula dengan umat Islam yang bisa memantau pelaksanaan ibadah haji di Mekkah.

 Kebebasan dalam era globalisasi dari segi keagamaan juga ditandai dengan semakin banyaknya tempat peribadatan yang dibangun. Di Negara-negara barat seperti Eropa dan Amerika, terdapat opini negatif terhadap pemeluk umat islam. Sehingga pada awalnya agama ini sangat dibatasi keberadaannya. Pembatasan yang berlaku juga termasuk dalam sarana beribadah bagi umat muslim. Dinegara-negara barat, sangat sulit ditemukan Masjid. Akan tetapi belakangan ini keberadaan umat muslim dinegara tersebut sudah semakin diakui sehingga pengikutnya semakin banyak. Jumlah pengikut agama islam yang semakin banyak, pada akhirnya membuat kebutuhan akan rumah ibadah tidak bisa dielakkan lagi. Kini banyak masjid-masjid besar yang dibangun dinegara-negara tersebut. Selaras dengan perkembangan jumlah rumah ibadah umat islam di negara Barat, jumlah rumah bagi umat beragama lain di Indonesia juga semakin banyak.

Di Indonesia bangunan-bangunan masjid sudah sangat modern. Model bangunan-bangunannya sudah tidak jauh beda dengan masjid taj mahal yang ada di India yang menjadi tujuh keajaiban dunia. Hal ini karena persediaan barang-barang yang untuk membangun sudah dengan mudah untuk di dapat. Selain sebagai sarana untuk peribadatan, masjid-masjid di era global sekarang juga bisa sebagai sarana untuk tempat jual-beli atau olahraga dsb, yang bertempat disekitar jalanan pinggir masjid. Hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Seperti contoh masjid Agung di Surabaya. Masjid tersebut selalu ramai saat hari libur datang. Seiring berjalannya waktu jumlah masjid di Indonesia sekarang sudah sangat banyak.

Dalam era globalisasi berdampak pada produk-produk media global yang berdampak pada ketegangan antara pengguna dan pemilik keyakinan, kedepan tidak dapat dielakkan. Kemajuan ilmu pengetahuan menjadi pembuka tabir akan informasi baik yang berhubungan dengan hak-hak teknis hingga keyakinan. Yang menjadi masalah besar adalah ketika suatu keyakinan akan kesucian telah ditentang oleh temuan-temuan secara ilmiah. Pondasi keyakinan akan kesucian suatu agama yang diajarkan dengan dogma, jelas sangat berbeda dengan metode media global yang menekankan pada logika. Jika muatan akan keyakinan dan kesucian suatu agama dikemudian hari bertolakbelakang dengan temuan ilmiah yang disebarluaskan oleh media informasi global, maka yang terjadi adalah reaksi para pengguna media global yang reaksioner, yang berorientasi menyelamatkan ajaran-ajaran dogmatis dengan dalih kesucian.

 

 

Perilaku yang muncul dipermukaan adalah reaksi anti kemanusiaan bagi mereka yang mencetuskan isi materi yang bertolakbelakang pada ajaran-ajaran yang bersifat dogmatikal.

Respon pengguna media informasi global akan hal-hal yang berhubungan dengan ketegangan antara keyakinan dan temuan ilmiah yang melawan isi dogma kesucian, menjadi masalah bagi semua pemangku lembaga agama yang ada. Masalahnya adalah bagaimana menyiapkan para pengguna media itu tidak terprovokasi untuk menciptakan perilaku yang anarkhis akibat dari informasi media global, namun juga mampu mengambil hal yang positif dari media informasi global untuk digunakan dalam membangun kehidupan sosial yang diidam-idamkan. Untuk itu perlu adanya rekayasa pendidikan media di era global.

 

Perkembangan budaya manusia dewasa ini telah mencapai taraf yang luar biasa, yang di dalamnya manusia bergerak menuju ke arah terwujudnya satu masyarakat manusia yang mencakup seluruh dunia; satu masyarakat global. Dengan teknologi transportasi dan komunikasi serba canggih yang berhasil diciptakannya, manusia telah berhasil mengatasi jarak yang dahulu memisah-misahkan manusia yang satu dari yang lain (dan juga yang memisah-misahkan suku bangsa yang satu dari yang lain bangsa yang satu dari yang lain; budaya yang satu dari yang lain, agama yang satu dari yang lain). Dengan berkembangnya teknologi transportasi dan komunikasi seperti itu jarak antarkota, antarpulau, antarnegara, dan antarbenua seolah tidak ada lagi. Dewasa ini manusia dengan mudah dapat berkomunikasi dengan sesamanya di seluruh dunia dengan

Dengan kesimpulan-kesimpulan tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan religi di era globalisasi sekarang ini cenderung lebih fleksibel tidak seperti jaman dulu. Fleksisbel disini yang dimaksud adalah mereka-mereka para manusia yang ingin mengekspresikan kepercayaan yang dimiliki dari dalam hati nurani mereka sudah mendapatkan kebebasan tersendiri. Namun kebebasan-kebebasan itu masih berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan tersebut. Seperti halnya norma susila dan norma  kesopanan. Sehingga dapat membatasi seseorang untuk tidak berbuat yang tidak pantas atau tidak seyogyanya. Berkat adanya globalisasi umat-umat beragama di Indonesia bisa untuk saling menghormati satu sama yang lain tanpa adanya batas dan tanpa adanya perpecahan karena mereka tahu bahwasanya sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain di sekitar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s