Aside
0

Moralitas, Makna Sosial dan Retorika : Konteks

Sosial dari Penalaran Moral

 

RANGKUMAN

  1. Latar Belakang Rangkuman Materi

Pada umumnya kita hanya sewaktu-waktu saja merasakan kebutuhan dan upaya aktual untuk mengambil keputusan mengenai tindakan dan keputusan moral yang praktis. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita selalu terlibat dengan mempertimbangkan tingkah laku orang lain, mengenakan sangsi terhadap sesama kita dan rekan sepergaulan, serta memberikan pula berbagai respons terhadap aneka pristiwa kemasyarakatan dengan cara menghargainya ataupun mencelanya. Kita berperilaku sebagai moralis, sebagai pemikir (filusuf) sosial, dan sebagai pembela moral serta sebagai ahli teori kemasyarakatan. Dalam melakukan semua itu, kita masing-masing sebagai individu, memperlihatkan suatu keyakinan akan apa yang merupakan penentu perilaku yang diharapkan, baik pada diri kita maupun pada orang lain. Keyakinan seperti itu  mencerminkan teori yang kita anut dalam rangka memelihara suatu tatanan sosial, membentuk hubungan antar personal dan sekaligus juga menggariskan konsekuensi dari pelanggaran moral yang dapat menimpa individu maupun kelompok.

Pendekatan Kognitif-Developmental dianggap lebih peduli terhadap proses individual menurut pendekatan ini peristiwa sosial dan pengalaman sosial dianggap sebagai katalisator untuk mendorong pemikiran seorang individu. Secara alternatif dapat dikatakan bahwa pristiwa sosial itu merupakan manifestasi dari penalaran individu yang tertuang dalam tindakan.

Pembagian arena pangkal serta pengoperasionalan permasalahan pemakanaan moral itu menjadi tiga permasalahan, yakni sistem pemakanaan sosiokultural,sistem pemaknaan interpersonal dan intera personal,dengan pemaknaan sistem sosiokultural, dapat dirujuk kepada suatu perangkat kepercayaan dan penjelasan dapat dimiliki individumelalui pengalaman budayanya

Meneliti ide Retorika itu dibagi dalam tiga cara, yaitu pertama, dalam bidang penalaran moral terjadi pembauran antara fakta nilai secara tidak terelakan lagi. Kedua, setiap kesimpulan moral atau perbuatan penalaran moral, betapapun bersifat pribadi, mempunyai nilai didaktis dan komunikatif. Ketiga, berbagai pengetahua serta teori yang dijumpai dalam khazanah kebudayaan, yang berfungsi sebagai sumber penalaran individu dan pertimbangan mengenai masalah moral, sosial, politik, yang tidak pernah bersifat netral, seperti halnya dengan penalaran individu, maka ortodoksi kultural dari masyarakat umum pun membaur fakta dengan nilai.

  1. a.      Arena Kritik

Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral terutama memusatkan perhatiannya pada ontogenesis dari penalaran individual menganai keadilan. Ada tiga pokok utama yang menjadi penolakan sosial.

  1. Metode penelitiannya sendiri merupakan suatu situasi sosial
  2. Seluruh kegiatan itu secara kultural bersifat parduga atau bias
  3. Metode dan teori tersebut tidak memperhatikan karya psikologi sosial mengenai peranan interakasi dalam kelompok kecil serta perbincangan mengenai makna dan peranan bahasa serta berbagai bentuk ekspresi.

Adapun penolakan dari kritik-kritik sosial itu menyangkut peranan dari faktor-faktor sosial serta faktor-faktor budaya dalam merumuskan apa yang sebenarnya yang dimaksud dengan respon yang memadai menurut ukuran moral itu.Penolakan pertama ialah penalaran yang pelakasanaannya ditentukan secara rasional. Penolakan yang bernada positivistik adapun yang merupakan landasan dari ktirik seperti ini adalah proses berpikir yang berlangsung dalam batin. Kelompok penolakan yang kedua berpandanagn bahwa model tersebut mengandung praduga bias kultural. Kritik ini pertama-tama bersifat antropologis. Ciri kedua dari kritik yang mengandung bias budaya berbau politik. Penolakan terhadap suatu teori moralitas yang hanya mencerminkan keadilan, membatasi hasrat orang yang ingin melihat persoalan  moralitas dalam perspektif budaya dan politik. Bentuk moralitas yang pertama yaitu asli mendasarkan diri pada keadilan yang diartikan sebagi hak dan kewajiban. Bentuk moralitas yang kedua yaitu tentang hubungan dan tanggungjawab bersama.

Perbedaan antar jenis dalam gaya penalaran moral merupakan suatu alasan untuk lebih memperhatikan perbedaan-perbedaan antar subkultur mengenai makna-makna tertentu yang diberikan dan dimanfaatkan. Perbedaan mendasar antara pendekatan perkembangan individual dengan pendekatan sosial. Bentuk penalaran sosial dan khususnya penalaran moral melayani kepentingan fungsi sosiologi serta fungsi sosial antar pribadi. Perbedaannya terletak pada penjelasaan, asal mula, dan penentu atau determinan dari kognisi moral itu.

  1. b.      Berbagai Model Makna dan Retorika

Sistem makna mengandung berbagai teori mengenai hakikat dan fungsi moralitas, serta peranannya dalam sistem sosial maupun kehidupan individual. Sistem makna adalah konteks simbol yang memungkinkan lahirnya prilaku yang ekspresif, tindakan komunikatif dan penafsiran perilaku orang lain. Sistem makna mengandung berbagai teori mengenai hakikat dan fungsi moralitas, serta peranannya dalam sistem sosial maupun kehidupan individual. Sistem makna itu mencerminkan pula oenjelasan mengenai tatanan budaya, dan bahkan juga tatanan alam semesta (kosmologis).

Berger dan Luckmann (1967) menunjukkan beberapa lembaga-lembaga sosial serta cara-cara orang bertindak secara normatif terhadap sesamanya itu dimantapkan (dilegitimasi) dan dijelaskan oleh teori-teori yang dinyatakan sebagai pengetahuan umum. Sistem makna sosial dapat dipandang sebagai perbendarharaan makna yang memungkinkan orang memberikan penjelasan mengenai dunia sosial dan dunia fisik. Adapun yang terutama dituntut oleh perbendaharaan makna ini adalah mereka yang dapat diterima menurut ukuran budayanya dalam lingkungan individual mereka.

Ada tiga wilayah asal mula serta cara beroperasinya sistem makna yaitu, bersifat sosiokultural, interpersonal dan intrapersonal. Ada beberapa definisi mengenai retorika dan teori sosial yang ditemukan dalam suatu wawancara mengenai pertimbangan moral yang baku. Unsur pertama dari definisi mengenai retorika ialah pembauran antara fakta dan nilai yang tidak terelakan lagi itu mengakibatkan sebagian besar pernyataan mengenai dunia sosial menjadi pernyataan asertoris (berlakunya predikat pada subjek yang bersangkutan hanya dipandang sebagai kenyataan belaka). Unsur kedua adalah komunikasi. Perumusan alasan-alasan moral yang bersangkutan dengan pertimbangan moral, ataupun preskripsi sosial dan politik jarang sekali merupakan skedar ungkapan semata-mata yang bersifat pribadi. Hal ini terkadang komunikatif dapat dirasakan bersama. Kita terlibat dalam persuasi dengan pihak lain. Untuk melakukan hal ini kita harus memiliki seperangkat kode komunikasi dan setidak-tidaknya suatu rumpun teori yang dianut bersama, walaupun kita tidak sepenuhnya setuju dengan kebenaran teori tersebut.

Ada dua dimensi terpisah mengenai model makna dan retorika, yakni pertama berkenaan dengan variasi dari sistem makna yang tercakup dalam retorika serta sistem makna yang dijadikan pegangan suatu teori sistem makna yang terdapat dalam suatu budaya tertentu.kedua, berkenaan dengan cara yang dapat digunakan retorika atau teori yang manapun dalam berbagai tahapan kompleksitas.

  1. c.       Hubungan Sosiokultural dan Hubungan Antarpribadi

Pertautan makna antara hubungan sosiokultural dan hubungan antarpribadi dapat diciptakan dengan menggunakan konsep retorika. Sistem pemaknaan sosiokultural mengajukan suatu rentangan kemungkinan teori, penjelasan, posisi retorika dan bahasa yang mungkin digunakan. Keefektifan retorika dari setiap bentuk teori, penjelasan atau bahasa yang digunakan dalam suatu komunikasi itu tergantung dari seberapa besar kemampuan  saling  memahami  antara pihak komunikan dan komunikator. Ketika  Individu yang bersangkutan dapat mengenali berbagai teori dan penjelasan yang beraneka, maka setidaknya individu tersebut dapat menunjukkan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi karakteristik sistem makna pribadi yang dianut oleh seorang invididu akan menyederhanakan proses komunikasi itu. Pertama, tahapan kompleksitas seorang individu akan menyederhanakan penafsiran makna sosiokulturalnya. Kedua, pengalaman pribadi seorang individu akan menyebabkan yang bersangkutan memberikan bobot yang berbeda pada berbagai teori and retorika yang beraneka. Contohnya adalah ketika diskusi yang berlangsung antara orang dewasa dengan anak-anak, salah satu hal yang berbeda itu adalah ketika orang dewasa berupaya untuk memintakan perhatian anak mengenai rasionalitas dan kehormatan.

  1. d.      Interpersonal dan Intrapersonal

 Eksperimentator misalnya menggelar suatu perundingan yang didasarkan pada suatu pembahasan rasional serta pengambilan keputusannya. Ia menggelar konsep tentang jalan “terbaik” yang diangkat anak-anak dengan cara beraneka. Bagi Norman “terbaik” berarti bagian yang sama. Bagi Bonnie “terbaik” berarti mengandung arti penampilan, dan berkali-kali secara konsisten mengacu pada kriteria yang ia artikan sebagai sempurna dan berharga.

Breakwell beranggapan bahwa ada peranan lain dari retorika bahasa itu, yaitu untuk menentukan dan memelihara identitas kelompok. Seorang individu mendapatkan seperangkat istilah pokok berkenaaan dengan ejekan dan penghargaan yang dipelajari dengan lingkungan kebudayaannya melalui pengalaman dalam situasi antar pribadi. ini dapat digunakan untuk memantapkan keanggotaannya dalam kelompok yang bersangkutan serta untuk menunjukan identitasnya terhadap rekan-rekannya yang langsung dalam kelompok tersebut. Dalam kutipan diatas Norman menunjukan status Dennis sebagai anak masih kecil, oleh karena itu jelas ia merupakan seorang anggota kelompok itu juga, walaupun ia saat itu tidak hadir. Penguasaan bahasa itu memungkinkan juga individu yang bersangkutan untuk mengundurkan diri dengan maksud untuk memperlihatkan harga diri serta keabsahannya (legitimisasinya) sebagai pribadi, baik secara umum maupun dalam berbagai konteks.

Ada dua cara hubungan antara interpersonal serta intrapersonal. Ada interaksi yang konstan antara individu dengan pemaknaan makna secara sosial, antara organisasi individu dengan penjabaran makna dan kerangka kerja serta negosiasi dari kelompok dan penafsiran makna kelompok dari individu tersebut.

Habermes (1979) telah mengajukan suatu model hubungan antara interpersonal dan intrapersonal, yang memusatkan perkembangan kemampuan dasar (kompetensi) individu dalam hubungannya dengan pengalaman sosial. Habermes beranggapan bahwa tahapan penalaran moral menderinkan perubahan dalam alam simbolik dan dalam tingkatan komunikatif.

  1. e.       Sosiokultural dan Interpersonal

Suatu kelompok dibatasi oleh karakteristik intrapersonal, pembatasan koginitif, dari para anggotanya. Tetapi setiap kelompok itu menurunkan perangkat makna yang telah diperbincangkan diantara anggota-anggotanya secara interpersonal. Seperti yang tersingkap dalam diskusi mengenai dilema,oral dan  masalah moral dalam situasi masyarakat sekolah oleh Higgins, Power dan Kohlberg dan mengenai Kibbutzim oleh Reimer dan Power (1980) jelaslah bahwa tahapan umum penalaran moral dari anggota kelompok sebagai individu mempengaruhi kesepakatan dari yang diperbincangkan itu. Ini merupakan contoh kendala intrapersonal yang berlangsung dalam kelompok.

Makna sosiokultural menentukan suatu jumlah tertentu yang mungkin digunakan bagi pemaknaan interpersonal. Namun bukan semata-mata satu-satunya cara dari proses itu. Kelompok-kelompok yang berkuasa atau berpengaruh, tidaklah biasa menurunkan retorika, penjelasan atau definisi yang baru, yang mungkin termasuk kedalam sistem makna kultural yang lebih luas. sepanjang dekade terakhir telah dilaksanakan pembahasan interpersonal yang berkenaan dengan permasalahan intensif dan persoalan seksisme. Sebagian besar pembahasan tersebut dilaksakan dalam bentuk menggugah kesadaran kelompok. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perubahan sosial.

 

 

 

PEMBAHASAN

 

            Sebagai individu kita memberikan komentar mengenai perilaku kita maupun orang lain dan sebagai konsekuensinya dari komentar itu kita melakukan berbagai perbuatan yang disukai maupun kurang disukai. Sebagai contoh ketika seorang teman sedang berbuat salah kita tidak mungkin menghakimi secarea langsung. Sebagai teman yang baik sebaiknya memberikan masukan-masukan yang baik agar teman kita tersebut tidak melakukan perbuatan yang tidak baik lagi. Konsekuensi yang mungkin timbul dari pemberian saran tersebut kemungkinan ada yang menghargai saran tersebut atau malah mencemooh saran tersebut. Apabila saran kita tidak dihargai atau dicemooh tidak boleh berkecil hati, kita dapat menggunkan bahasa yang lebih baik lagi dan lebih bisa untuk dipahami. Dengan begitu kita mendapatkan konsekuensi yang positif atau apa yang kita lakukan tersebut dapat diterima dan disukai oleh orang lain.

            Pendekatan Kognitif-Developmental dianggap lebih peduli terhadap proses individu, artinya peristiwa sosial dan pengalaman sosial dianggap sebagai katalisator untuk mendorong pemikiran seorang individu dan peristiwa  sosial tersebut merupakan manifestasi dari penalaran individu yang tertuang dalam tindakan. Dengan kata lain dapat kita simpulkan bahwa dari hal-hal baru yang kita jumpai serta pengalaman yang kita alami dapat diambil sebuah hikmah atau pelajaran dimana didalamnya terdapat dimana didalamnya terdapat sebuah perubahan yang disebut perubahan sosial. Ketika seorang yang sedang menghadapi suatu masalah, secara tidak langsung memaksa seorang tersebut untuk mencari jalan dalam penyelesaian masalah. Ada sebuah konsep yang mengatakan bahwa “aku berfikir, maka aku ada” jadi seseorang itu dituntut untuk berfikir dalam kondisi apapun. Tetapi dalam penerapannya seorang tersebut tidak hanya cukup untuk berfikir saja, tetapi juga harus bisa menerapkan apa yang difikirkannya kedalam tindakan.

Jika ditinjau dari inti sebelumnya mengenai konsep moral yang dikemukakan oleh Kohlberg mengenai dilema moral adalah keadilan, pemahaman akan hak, kewajiban, kelayakan dan peran. Urutan dari tahapan-tahapan perkembangan moral mencerminkan perubahan dan pemahaman yang lebih meningkat dalam hubungan individu dengan orang lain, individu dengan kelompoknya, individu dengan pergaulan hidupnya dan akhirnya dengan masyarakat luas.

            Adapun penolakan dari kritik-kritik sosial menyangkut masalah peranan dari faktor-faktor sosial yang berupa respons yang memadai menurut ukuran moral itu. Ada tiga bentuk penolakan, yakni penolakan yang pelaksanaannya ditentukan secara situasional, apabila dalam suatu masyarakat terdapat berbagai macam kebudayaan maka kita harus menyesuaikan kondisi kebudayaan yang ada didalam masyarakat tersebut. Sehingga keberadaan kita dapat diterima dalam masyakat tersebut. Dengan begitu maka dapat meminimalisir terjadinya konflik ditengah masyarakat.

Kritikan adalah sebuah proses yang berlangsung dalam batin dan bertolak belakang dengan kejadian sebenarnya. Dengan kata lain seseorang dapat memberikan kesaksian yang bersifat palsu. Dan mungkin saja apa yang ada didalam pemikirannya tidak sesuai dengan realitas sosialnya. Dengan kata lain landasan dari kritikan ini adalah proses pemikiran yang berlangsung dalam “batin” tidak relevan dengan apa yang berlangsung secara nyata dalam situasi sosial. Artinya seseorang dapat memberikan kesaksian yang mungkin dapat berupa kepalsuan dari suatu kenyataan dan mungkin saja apa yang ada didalam pemikiran nya tidak sesuai dengan apa yang ia tuturkan dalam realitas nyata sosialnya.

Penolakan yang dilakukan secara langsung dapat diterapkan dengan cara menampilkan dirinya dalam peran sosialnya yaitu ditengah lingkungan masyarakat dimana ia berada. Hal ini merupakan sebuah tuntutan sosial. Dimana seseorang jika ingin dianggap ada maka seseorang harus melakukan peran sosialnya dengan baik. Hal ini dikarenakan peran sosial setiap orang itu sangat berpengaruh dalam mempertahankan status sosialnya didalam lingkungan masyarakat.

Ada dua unsur Retorika (jalan pikiran), unsur pertama dari definisi mengenai retorika ialah pembauran antara fakta dan nilai yang tidak terelakan lagi. Dapat diartikan bahwa semakin banyak kebudayaan itu bersifat beranekaragam, pernytaan tersebut akan makin bersifat menyeluruh. Apa bila banyak ditemukan teori yang menyeluruh bersifat bertentangan, maka akan makin dirasakan perlunya memberikan kebenaran tentang sudut pandang kebenaran yang dianut seseorang.

Unsur kedua adalah komunikasi. Keterampilan bahasa dapat digunakan untuk menjalin suatu komunikasi antara individu dengan individu, dengan kelompok bahkan mungkin dengan masyarakat luas. Mengajak untuk bertindak melalui perilaku sehari-hari sebagai teladan orang yang selalu berbuat dan bertindak secara rasional. Sikap dan perilaku seseorang dalam menjunjung tinggi pikiran posistif itu merupakan pedoman kita bersama dan kita sama-sama percaya hal tersebut akan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas dan sebagainya.

Sebagai contoh, Jamroni dan Hanif berasal dari daerah yang berbeda. Dimana Jamroni berasal dari Surabaya dan Hanif berasal dari Solo. Jamroni cenrung menggunakan tata bahasa yang cenderung lebih kasar. Sehingga Jamroni sering di tegur oleh dosennya.  Berbeda dengan Hanif yang selalu dipuji oleh dosen karena tutur bahasanya yang baik. Maka Jamroni mempunyai inisiatif untuk meniru sikap dan prilaku Hanif dalam bertutur kata. Karena Jamroni beranggapan hal itu akan mempunyai banyak manfaat bagi dirinya dan dapat merubah kebiasaan buruknya.

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa moralitas (dari cara, karakter, perilaku yang tepat)  adalah perilaku yang membedakan niat, keputusan, dan tindakan antara yang baik dan buruk. Kode moral merupakan sistem moralitas (misalnya, sesuai dengan filsafat tertentu, agama, budaya, dan lain-lain) dan moral adalah setiap praktek satu atau mengajar dalam kode moral.

Penalaran moral serta perilaku dalam mempertimbangkan moral yang dilakukan seorang individu tergantung dari teori sosial yang secara langsung dianutnya dan merupakan suatu perangkat asumsi dan penjelasan  mengenai cara kerja sistem sosialnya serta hubungan individual dalam sistem sosial tersebut. Sebagian besar penalaran  tentang masalah-masalah moral, sosial dan politik bersifat retorik, artinya itu semua sebenarnya lebih merupakan suatu tindakan komunikasi persuasif, yang dinyatakan sebagai suatu preskripsi yang dijabrakan dari teori sosial yang secara implisit dianut individu yang bersangkutan.

Retorika yang berkaitan dengan bab ini adalah terbentuk melalui penyelesaian dilema hipotesis merupakan pula pembahasan dasar dari situasi nyata dan biasa, pemikiran yang biasa dari individu-individu, mengenai kehidupan pribadi mereka, mengenai hubungan mereka dengan orang lain yang penting dan dengan institusi masyarakat. Penjelasan dan retorika ini mudah didapat oleh individu yang bersangkutan melalui pengalaman budaya dan pengalaman antarpribadi, biasanya orang yang tidak berfikir dan tidak berteori dalam keadaan dan menyendiri.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Blatt, M., dan Kohlberg, L. Effects of classroom moral discussion upon children’s level of moral judgement. Journal of Moral Education, 1975, 4, 129-162.

Harre, R. Social being, Oxford: Brasil Blackwell, 1979.

Kurtines, William M., dan Gerwitz, Jacob. L. Moralitas, perilaku moral, dan perkembangan moral. Jakarta: UI Press, 1992.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s